progamersarena.org/ – Kripto semakin mendapat tempat dalam strategi membangun kekayaan di kalangan investor kaya. Aset digital yang sebelumnya identik dengan spekulasi kini mulai dipandang sebagai salah satu instrumen investasi jangka panjang yang berpotensi menghasilkan kekayaan dalam satu dekade ke depan.

Temuan tersebut tercermin dalam Nexo Digital Wealth Survey 2026. Berdasarkan survei tersebut, sebanyak 19,2 persen investor affluent atau investor dengan aset likuid relatif tinggi menilai kripto sebagai sumber kekayaan pribadi terbesar yang mereka harapkan dalam 10 tahun mendatang.

Angka tersebut cukup menarik karena menempatkan kripto di atas beberapa sumber kekayaan konvensional, termasuk pendapatan dari pekerjaan, saham, dan properti. Perubahan persepsi ini menunjukkan bahwa aset digital mulai bergerak dari sekadar instrumen alternatif menuju bagian dari pembicaraan mengenai strategi kekayaan jangka panjang.

Namun, meningkatnya optimisme terhadap kripto tidak berarti seluruh investor sudah menjadikan aset digital sebagai bagian utama dari rencana keuangan mereka. Data yang sama justru memperlihatkan bahwa tingkat kepemilikan kripto dan tingkat integrasinya ke dalam strategi keuangan merupakan dua hal yang berbeda.

Kripto Mulai Dipandang sebagai Sumber Kekayaan Jangka Panjang

Dalam beberapa tahun terakhir, kripto mengalami perubahan posisi dalam portofolio investor. Bitcoin, Ethereum, dan berbagai aset digital lainnya tidak lagi hanya dibicarakan dalam konteks perdagangan jangka pendek, tetapi juga mulai dikaitkan dengan diversifikasi aset dan pembentukan kekayaan.

Laporan Nexo Digital Wealth Survey 2026 memberikan gambaran mengenai perubahan tersebut. Sebanyak 19,2 persen responden memilih kripto sebagai sumber kekayaan terbesar yang mereka harapkan dalam 10 tahun ke depan.

Posisi tersebut bahkan berada di atas gaji, saham, dan properti.

Menurut laporan Nexo, kripto dipilih oleh 19,2 persen responden, sementara pendapatan dari pekerjaan berada di angka 17,3 persen. Saham dipilih oleh 16 persen responden dan properti sebesar 11,8 persen.

Perbedaan tersebut memperlihatkan adanya perubahan cara sebagian investor kaya melihat aset digital. Kripto tidak semata-mata dianggap sebagai aset pelengkap, tetapi mulai dipertimbangkan sebagai salah satu sumber pertumbuhan kekayaan.

Meski demikian, angka tersebut sebaiknya tidak ditafsirkan sebagai gambaran seluruh investor di dunia. Survei Nexo memiliki cakupan responden dan definisi kelompok investor yang spesifik.

Baca Juga: Harga Bitcoin Sentuh US$82.400 untuk Ketiga Kalinya, Kali Ini Bisa Jebol?

Siapa yang Disurvei dalam Nexo Digital Wealth Survey 2026?

Nexo melakukan survei terhadap 1.000 investor affluent yang berasal dari Amerika Serikat, Inggris, dan Argentina. Pengumpulan data dilakukan pada Februari hingga Maret 2026.

Kelompok affluent dalam survei ini juga memiliki batasan tertentu. Responden dari Amerika Serikat dan Inggris setidaknya memiliki US$100.000 aset likuid. Sementara itu, ambang batas yang digunakan untuk responden Argentina adalah US$40.000 aset likuid.

Karena itu, hasil survei tidak bisa disamakan dengan perilaku masyarakat secara umum.

Investor dengan aset likuid dalam jumlah besar tentu memiliki kondisi keuangan, toleransi risiko, serta akses terhadap berbagai instrumen investasi yang berbeda dibandingkan investor ritel dengan modal terbatas.

Dengan demikian, temuan bahwa 19,2 persen responden memilih kripto sebagai sumber kekayaan utama masa depan lebih tepat dibaca sebagai indikasi mengenai perubahan sentimen di kalangan investor affluent, bukan sebagai representasi seluruh populasi investor.

Kepemilikan Kripto Sudah Tinggi di Kalangan Investor Affluent

Salah satu temuan lain yang cukup menonjol adalah tingginya tingkat kepemilikan aset kripto.

Sebanyak 66,7 persen responden mengaku sudah memiliki kripto. Artinya, sekitar dua dari tiga investor yang masuk dalam kelompok survei telah memasukkan aset digital ke dalam kepemilikan mereka.

Tingkat kepemilikan ini menunjukkan bahwa kripto sudah cukup dikenal dan digunakan oleh kelompok investor dengan aset likuid tinggi.

Namun, memiliki kripto tidak selalu berarti investor tersebut telah menjadikan aset digital sebagai bagian inti dari strategi kekayaan.

Seseorang dapat memiliki Bitcoin atau aset kripto lainnya dalam jumlah kecil sebagai bagian dari diversifikasi tanpa menjadikannya instrumen utama dalam perencanaan keuangan. Sebaliknya, investor lain dapat memiliki alokasi lebih besar dan memasukkan aset kripto ke dalam strategi pensiun atau rencana kekayaan jangka panjang.

Perbedaan antara kepemilikan kripto dan integrasi kripto inilah yang menjadi salah satu aspek penting dalam laporan Nexo.

Crypto Integration Index Mengukur Seberapa Dalam Kripto Digunakan

Untuk melihat tingkat integrasi aset digital dalam strategi keuangan, Nexo menggunakan indikator bernama Crypto Integration Index (CII).

Indeks ini tidak hanya melihat apakah seseorang memiliki kripto atau tidak. Pengukurannya mencakup sejumlah aspek, seperti besarnya alokasi aset, jangka waktu kepemilikan, penggunaan kripto dalam perencanaan pensiun, kemungkinan menggantikan aset tradisional, serta persepsi investor terhadap risiko.

Dengan pendekatan tersebut, CII memberikan gambaran yang lebih luas mengenai posisi kripto dalam keseluruhan strategi finansial seseorang.

Rata-rata skor CII dalam survei berada pada level 4,83 dari 10.

Hampir 43 persen investor berada pada rentang skor 4 hingga 5. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun kepemilikan kripto sudah cukup tinggi, integrasinya ke dalam strategi kekayaan secara keseluruhan masih berada pada tingkat menengah.

Dengan kata lain, popularitas kripto belum otomatis berarti investor sudah menganggap aset digital sebagai fondasi utama perencanaan keuangan mereka.

Gen Z Menjadi Kelompok dengan Kepemilikan Kripto Tertinggi

Jika data tersebut dilihat berdasarkan kelompok usia, terdapat perbedaan yang cukup signifikan.

Investor berusia 18 hingga 25 tahun tercatat memiliki tingkat kepemilikan kripto paling tinggi, yakni mencapai 94,2 persen.

Angka tersebut jauh di atas tingkat kepemilikan rata-rata seluruh responden yang berada di 66,7 persen.

Kelompok investor muda juga menunjukkan optimisme yang cukup tinggi terhadap potensi aset digital. Sekitar 30,8 persen investor berusia 18 hingga 25 tahun menyebut kripto sebagai sumber kekayaan utama yang mereka harapkan dalam satu dekade mendatang.

Temuan ini menunjukkan bahwa generasi muda yang sudah masuk ke dunia investasi memiliki tingkat eksposur dan ekspektasi yang relatif tinggi terhadap aset digital.

Namun, terdapat sebuah catatan menarik. Meskipun optimisme kelompok muda terhadap kripto tinggi, hanya sekitar 2 persen dari kelompok tersebut yang menyatakan memiliki horizon investasi lebih dari 10 tahun.

Hal ini memperlihatkan adanya perbedaan antara keyakinan terhadap potensi jangka panjang dan perilaku investasi jangka panjang.

Kelompok Usia 35–44 Tahun Memiliki Integrasi Kripto Lebih Tinggi

Menariknya, kelompok dengan kepemilikan kripto tertinggi bukanlah kelompok yang memiliki tingkat integrasi kripto paling tinggi.

Investor berusia 35 hingga 44 tahun mencatat skor Crypto Integration Index sebesar 5,04, lebih tinggi dibandingkan rata-rata keseluruhan sebesar 4,83.

Kelompok ini berada pada fase kehidupan ketika akumulasi aset, perencanaan pensiun, dan pengelolaan kekayaan biasanya menjadi semakin penting.

Dalam survei tersebut, sekitar 28 persen pemilik kripto berusia 35 hingga 44 tahun menjadikan aset digital sebagai bagian inti dari strategi pensiun mereka.

Data ini memberikan gambaran bahwa usia tidak hanya berkaitan dengan tingkat kepemilikan aset kripto, tetapi juga dengan bagaimana aset tersebut ditempatkan dalam rencana keuangan.

Sementara kelompok yang lebih muda cenderung menunjukkan tingkat kepemilikan dan optimisme yang tinggi, investor usia 35–44 tahun terlihat lebih terintegrasi dalam penggunaan kripto sebagai bagian dari strategi kekayaan.

Setelah memasuki usia 45 tahun, tingkat alokasi serta integrasi kripto dalam perencanaan pensiun mulai menunjukkan kecenderungan menurun.

Strategi Investasi Kripto Berbeda di Setiap Negara

Perbedaan menarik juga terlihat ketika data dibagi berdasarkan negara.

Argentina mencatat tingkat kepemilikan kripto tertinggi dalam survei, yaitu 74,3 persen. Amerika Serikat berada di angka 65 persen, sedangkan Inggris mencapai 62,3 persen.

Namun, tingkat kepemilikan yang tinggi tidak berarti alasan atau sumber dana untuk membeli kripto sama di setiap negara.

Kondisi ekonomi, pengalaman masyarakat terhadap sistem keuangan, serta karakter pasar investasi dapat memengaruhi cara investor memandang aset digital.

Karena itu, kripto dapat memiliki fungsi yang berbeda bagi investor di masing-masing wilayah.

Investor Argentina Banyak Menggunakan Kripto sebagai Penyimpan Nilai

Di Argentina, kripto memiliki peran yang cukup kuat sebagai penyimpan nilai.

Dalam survei Nexo, sebanyak 45,8 persen pendanaan kripto di Argentina berasal dari pengurangan kas.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian investor mengalihkan sebagian dana tunai mereka ke aset digital.

Konteks tersebut penting karena fungsi kripto tidak selalu sama dengan fungsi yang dilihat investor di negara lain. Bagi sebagian investor, aset digital dapat dikaitkan dengan kebutuhan untuk mempertahankan nilai kekayaan atau melakukan diversifikasi dari kepemilikan kas.

Namun, hal tersebut tidak berarti seluruh investor Argentina memiliki pandangan yang sama. Data survei hanya menggambarkan pola pada responden yang masuk dalam kelompok penelitian.

Investor Amerika Serikat Lebih Banyak Mengalihkan Dana dari Saham

Di Amerika Serikat, pola pendanaan kripto terlihat berbeda.

Sebanyak 41,3 persen dana yang digunakan untuk investasi kripto berasal dari pengalihan dana dari saham.

Temuan ini menarik karena menunjukkan adanya hubungan antara aset digital dan pasar saham dalam pengelolaan portofolio investor.

Bagi sebagian responden, keputusan memiliki kripto tampaknya bukan sekadar menambah kelas aset baru, melainkan juga mengubah komposisi aset yang sebelumnya sudah dimiliki.

Investor dapat melakukan diversifikasi dengan mengurangi eksposur pada satu jenis aset dan mengalokasikannya ke instrumen lain. Dalam konteks survei tersebut, saham menjadi salah satu sumber dana penting untuk alokasi ke kripto di kalangan investor AS.

Investor Inggris Menggunakan Sumber Dana yang Lebih Beragam

Sementara itu, investor di Inggris memperlihatkan pola yang lebih tersebar.

Pendanaan untuk investasi kripto berasal dari beberapa sumber, yaitu kas sebesar 34,9 persen, saham 30,3 persen, obligasi 22,9 persen, dan properti 11,9 persen.

Tidak terdapat satu sumber dana yang terlalu dominan.

Pola tersebut menunjukkan bahwa investor Inggris dalam survei cenderung menggunakan pendekatan yang lebih beragam ketika melakukan alokasi ke aset digital.

Perbedaan antarnegara ini juga menegaskan bahwa pembicaraan mengenai adopsi kripto tidak dapat dilepaskan dari kondisi pasar dan karakter investor di masing-masing wilayah.

Volatilitas Masih Menjadi Kekhawatiran Utama

Meningkatnya minat terhadap kripto tidak menghilangkan risiko yang melekat pada aset digital.

Volatilitas masih menjadi salah satu perhatian penting bagi investor, khususnya di Amerika Serikat dan Inggris.

Harga aset kripto dapat mengalami perubahan yang signifikan dalam waktu relatif singkat. Kondisi tersebut membuat investor perlu mempertimbangkan toleransi risiko dan tujuan investasi sebelum menentukan besarnya alokasi.

Bagi investor yang sudah semakin terintegrasi dengan kripto, perhatian juga mulai bergeser ke persoalan lain. Pajak, keamanan aset, biaya transaksi, serta kualitas infrastruktur menjadi bagian dari pertimbangan yang semakin penting.

Artinya, semakin besar peran kripto dalam portofolio, semakin kompleks pula kebutuhan investor dalam mengelolanya.

Kepemilikan Kripto Tidak Sama dengan Integrasi Finansial

Salah satu pelajaran penting dari survei ini adalah bahwa tingkat kepemilikan kripto tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator adopsi aset digital.

Seseorang yang memiliki kripto belum tentu memiliki strategi jangka panjang. Sebaliknya, investor dengan kepemilikan yang tidak terlalu besar bisa saja sudah memasukkan aset digital ke dalam perencanaan pensiun dan diversifikasi portofolionya.

Crypto Integration Index mencoba menangkap perbedaan tersebut dengan memperhitungkan beberapa aspek sekaligus.

Hal ini juga menjelaskan mengapa kelompok usia dengan tingkat kepemilikan tertinggi tidak selalu menjadi kelompok dengan tingkat integrasi tertinggi.

Baca Juga: CoinEx Gulung Tikar Setelah 9 Tahun, Ini Alasan dan Nasib Aset Pengguna

Apa Arti Temuan Ini bagi Perkembangan Pasar Kripto?

Data Nexo menunjukkan bahwa persepsi terhadap aset digital sedang mengalami perubahan di kalangan sebagian investor kaya.

Kripto mulai dipertimbangkan sebagai salah satu sumber pembentukan kekayaan jangka panjang. Bahkan, dalam survei tersebut, persentase responden yang memilih kripto sebagai sumber kekayaan terbesar masa depan mencapai 19,2 persen.

Namun, perkembangan tersebut tetap perlu dilihat secara proporsional.

Survei hanya melibatkan 1.000 investor affluent dari tiga negara dan menggunakan definisi kekayaan tertentu. Oleh sebab itu, hasilnya tidak dapat secara langsung menggambarkan seluruh investor global atau masyarakat umum.

Meski begitu, data tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana aset digital mulai masuk lebih jauh ke dalam percakapan mengenai strategi kekayaan, diversifikasi, dan perencanaan pensiun.

Masa Depan Kripto di Portofolio Investor Kaya

Perjalanan kripto dari aset spekulatif menuju bagian dari strategi investasi jangka panjang masih berlangsung.

Tingginya tingkat kepemilikan menunjukkan bahwa aset digital sudah memiliki basis pengguna yang kuat di kalangan investor affluent. Di sisi lain, skor integrasi yang masih berada di tingkat menengah menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk peningkatan dalam hal alokasi, perencanaan pensiun, dan penggunaan kripto sebagai bagian dari strategi kekayaan.

Perbedaan antarusia dan antarnegara juga menunjukkan bahwa tidak ada satu pola tunggal dalam investasi kripto.

Investor muda cenderung menunjukkan tingkat kepemilikan dan optimisme yang tinggi. Kelompok usia 35–44 tahun memiliki integrasi yang lebih kuat dengan perencanaan keuangan. Sementara itu, investor di Argentina, Amerika Serikat, dan Inggris memiliki pola pendanaan serta alasan kepemilikan yang berbeda.

Dengan demikian, perkembangan pasar kripto tidak hanya ditentukan oleh pergerakan harga Bitcoin atau aset digital lainnya, tetapi juga oleh bagaimana investor memasukkan kripto ke dalam struktur kekayaan mereka.

Pada akhirnya, data Nexo Digital Wealth Survey 2026 memperlihatkan satu tren yang patut diperhatikan: kripto semakin dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi pembentukan kekayaan jangka panjang oleh sebagian investor affluent.

Namun, tingginya ekspektasi terhadap kripto tetap berjalan berdampingan dengan sejumlah tantangan, mulai dari volatilitas, risiko keamanan, perpajakan, biaya, hingga infrastruktur aset digital.

Bagi investor, memahami perbedaan antara sekadar memiliki kripto dan benar-benar mengintegrasikannya ke dalam strategi keuangan menjadi semakin penting seiring berkembangnya industri aset digital.

Perkembangan tersebut juga menjadi salah satu indikator bahwa ekosistem kripto dan teknologi blockchain terus bergerak menuju fase yang semakin matang, meskipun tingkat adopsi dan strategi penggunaannya masih berbeda berdasarkan usia, negara, serta profil investor.

Kesimpulan

Kripto kini tidak lagi hanya dipandang sebagai instrumen untuk mengejar keuntungan jangka pendek. Berdasarkan Nexo Digital Wealth Survey 2026, sebanyak 19,2 persen investor affluent yang disurvei menempatkan aset digital sebagai sumber kekayaan terbesar yang mereka harapkan dalam 10 tahun mendatang.

Angka tersebut berada di atas gaji, saham, dan properti dalam survei tersebut. Namun, tingkat kepemilikan yang mencapai 66,7 persen belum sepenuhnya menunjukkan integrasi kripto dalam strategi finansial karena rata-rata Crypto Integration Index masih berada di 4,83 dari 10.

Perbedaan berdasarkan usia dan negara juga memperlihatkan bahwa adopsi kripto memiliki pola yang beragam. Karena itu, perkembangan aset digital perlu dilihat tidak hanya dari jumlah pemiliknya, tetapi juga dari cara investor mengalokasikan, mengelola, dan mengintegrasikan kripto ke dalam rencana kekayaan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *