progamersarena.org/ – INDODAX akan menghentikan perdagangan 27 aset kripto mulai Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 14.00 WIB. Sejumlah token yang terdampak kebijakan delisting ini antara lain Balancer (BAL), Loopring (LRC), dan ZetaChain (ZETA). Pengguna yang masih memiliki aset tersebut perlu memperhatikan jadwal penghentian perdagangan serta batas waktu penarikan agar dapat menentukan langkah selanjutnya.
Berdasarkan pengumuman resmi yang diterbitkan pada Kamis, 8 Oktober 2026, keputusan INDODAX delisting 27 kripto merupakan bagian dari evaluasi berkala terhadap aset digital yang tersedia di platform. Meski demikian, perusahaan belum mengungkapkan alasan spesifik penghapusan untuk setiap token dalam daftar terbaru.
Kebijakan ini menjadi pengumuman delisting ketiga yang disampaikan INDODAX sejak awal September 2026. Jika seluruh pengumuman tersebut dihitung, terdapat 60 aset kripto yang masuk dalam tiga gelombang pengumuman selama sekitar lima pekan.
Di tengah kebijakan tersebut, perkembangan proyek Balancer, Loopring, dan ZetaChain turut menjadi perhatian. Ketiga proyek ini sedang menghadapi perubahan atau keputusan penting yang relevan bagi pemegang tokennya, meskipun belum ada konfirmasi bahwa perkembangan tersebut menjadi penyebab langsung keputusan INDODAX.
Lantas, apa saja token yang akan dihapus dari perdagangan, kapan batas akhir penarikannya, dan bagaimana pengguna dapat mengamankan aset yang masih tersimpan di akun? Berikut ulasan lengkapnya.
Baca Juga: Bitcoin Jelang Uptober Setelah September Menghijau, Sejarah Bilang Apa?
INDODAX Delisting 27 Aset Kripto Mulai 15 Oktober 2026
INDODAX menetapkan Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 14.00 WIB sebagai waktu penghentian perdagangan dan deposit untuk 27 aset kripto yang diumumkan sebelumnya.
Setelah jadwal tersebut berlaku, pengguna tidak lagi dapat melakukan transaksi perdagangan atas token yang terdampak melalui pasar INDODAX. Penghentian deposit juga berarti pengguna perlu memperhatikan dukungan jaringan dan ketentuan platform sebelum mengirimkan aset terkait ke akun mereka.
Berikut daftar lengkap 27 aset kripto yang masuk dalam pengumuman delisting INDODAX:
- Balancer (BAL)
- COLLAT
- DUPE
- LADYS
- PERP
- POLY
- RFC
- DLC
- VOXEL
- YFII
- MOONPIG
- DOGE2
- MSHD
- VBG
- VRA
- CHT
- KRD
- STRM
- SLP
- D
- BONE
- AURA
- HONEY
- Loopring (LRC)
- ZetaChain (ZETA)
- SHRED
- H2O
Pengguna yang memiliki satu atau beberapa token tersebut sebaiknya memeriksa saldo dan riwayat transaksi sejak dini. Langkah ini membantu memastikan jumlah aset yang dimiliki serta menentukan apakah aset akan dipindahkan ke dompet pribadi atau platform lain yang masih mendukungnya.
Namun, penting untuk dipahami bahwa delisting dari sebuah bursa tidak secara otomatis berarti suatu token kehilangan seluruh nilai atau berhenti beroperasi di semua platform. Delisting berarti akses perdagangan token tersebut dihentikan pada bursa yang bersangkutan. Kondisi aset setelahnya tetap bergantung pada perkembangan proyek, dukungan jaringan, ketersediaan pasar lain, dan faktor terkait.
Jadwal Delisting INDODAX dan Batas Akhir Withdrawal
Salah satu informasi terpenting bagi pemegang aset adalah perbedaan antara penghentian perdagangan dan penutupan layanan penarikan. Kedua jadwal tersebut tidak berlangsung pada waktu yang sama.
INDODAX memberikan periode tambahan bagi pengguna untuk menarik aset setelah perdagangan dihentikan. Berdasarkan informasi dalam pengumuman, batas akhir penarikan ditetapkan satu bulan setelah jadwal delisting.
Berikut rangkuman jadwal yang perlu diperhatikan.
| Tahapan | Jadwal |
|---|---|
| Pengumuman delisting | 8 Oktober 2026 |
| Penghentian perdagangan dan deposit | 15 Oktober 2026, pukul 14.00 WIB |
| Pembatalan otomatis pesanan terbuka yang belum tereksekusi | Saat perdagangan dihentikan |
| Batas akhir penarikan aset | 15 November 2026, pukul 14.00 WIB |
Jadwal tersebut perlu menjadi perhatian terutama bagi pengguna yang masih menyimpan saldo BAL, LRC, ZETA, maupun token lain yang tercantum dalam daftar.
1. Perdagangan dan deposit dihentikan pada 15 Oktober
Mulai 15 Oktober 2026 pukul 14.00 WIB, pengguna tidak lagi dapat memperdagangkan 27 aset yang terdampak melalui INDODAX. Layanan deposit untuk aset-aset tersebut juga dijadwalkan berhenti pada waktu yang sama.
Pengguna yang masih mempunyai pesanan jual atau beli terbuka perlu memeriksa status order sebelum batas waktu tersebut. Pesanan yang belum berhasil dieksekusi akan dibatalkan secara otomatis oleh sistem ketika perdagangan dihentikan.
Jika ingin membatalkan pesanan lebih awal, pengguna dapat melakukannya secara mandiri sebelum jadwal delisting berlaku.
2. Penarikan aset tersedia hingga 15 November
Setelah perdagangan dihentikan, pengguna masih diberikan waktu untuk melakukan withdrawal atau penarikan aset hingga 15 November 2026 pukul 14.00 WIB.
Periode tambahan ini dapat digunakan untuk memindahkan token ke dompet pribadi atau platform lain yang masih menyediakan dukungan terhadap aset terkait.
Meski demikian, pengguna tidak sebaiknya menunggu hingga mendekati tenggat waktu. Proses penarikan dapat dipengaruhi oleh kondisi jaringan blockchain, dukungan teknis proyek, serta ketersediaan fitur withdrawal pada platform.
Apabila jaringan mengalami gangguan atau pengembang menghentikan dukungan teknis tertentu, pemindahan aset berpotensi menghadapi kendala. Karena itu, pemeriksaan lebih awal dapat membantu pengguna mengantisipasi masalah sebelum batas penarikan berakhir.
Apa yang Terjadi pada Saldo Pengguna Setelah Token Delisting?
Delisting sering menimbulkan pertanyaan mengenai nasib saldo yang masih tersimpan di akun bursa. Pengguna mungkin khawatir aset akan langsung hilang setelah perdagangan dihentikan atau tidak lagi terlihat pada halaman dompet.
Dalam penjelasan terpisah mengenai saldo aset yang tidak muncul di Wallet, INDODAX menyatakan bahwa hilangnya tampilan aset dari halaman dompet tidak otomatis menghapus saldo yang masih tercatat.
Namun, kondisi saldo yang tercatat dan kemampuan untuk menarik aset merupakan dua hal berbeda. Pengguna tetap perlu memperhatikan apakah jaringan token masih berfungsi dan apakah fitur penarikan masih tersedia.
INDODAX juga menyatakan bahwa aset yang belum ditarik setelah periode withdrawal berakhir akan dikelola sesuai dengan syarat dan ketentuan umum perusahaan. Oleh karena itu, pengguna sebaiknya tidak menganggap bahwa saldo akan tetap dapat ditarik tanpa batas waktu.
Selain itu, bursa tersebut tidak akan bertanggung jawab maupun memfasilitasi migrasi, pertukaran token, atau perubahan identitas proyek yang dilakukan pengembang setelah tanggal delisting.
Ketentuan ini menjadi penting apabila sebuah proyek melakukan perubahan jaringan atau memindahkan token ke blockchain lain. Pengguna yang tidak mengikuti mekanisme migrasi resmi berpotensi menghadapi kesulitan dalam mengakses atau memindahkan aset.
Langkah yang sebaiknya dilakukan pemegang token
Ada beberapa tindakan yang dapat dipertimbangkan oleh pengguna yang masih memiliki aset terdampak.
Pertama, periksa saldo dan nama token. Pastikan aset yang tersimpan benar-benar termasuk dalam daftar delisting. Periksa pula jumlah saldo dan riwayat transaksi untuk menghindari kesalahan saat melakukan pemindahan.
Kedua, periksa jaringan yang didukung. Sebelum melakukan withdrawal, pastikan jaringan pada alamat tujuan sesuai dengan jaringan token yang akan dikirim. Kesalahan memilih jaringan atau alamat dapat mengakibatkan aset tidak sampai sebagaimana mestinya.
Ketiga, verifikasi alamat dompet tujuan. Gunakan alamat yang benar-benar mendukung aset bersangkutan. Jika menggunakan dompet pribadi, pastikan pengguna memahami cara mengakses dan mengelola aset melalui dompet tersebut.
Keempat, perhatikan biaya transaksi. Penarikan aset kripto dapat melibatkan biaya jaringan atau biaya layanan sesuai ketentuan platform. Periksa jumlah minimum penarikan dan biaya yang berlaku sebelum mengonfirmasi transaksi.
Kelima, simpan bukti transaksi. Catat informasi transaksi, termasuk jumlah aset, alamat tujuan, jaringan, dan transaction hash apabila tersedia. Informasi ini dapat membantu ketika pengguna perlu menelusuri transaksi atau menghubungi layanan pelanggan.
Keenam, hubungi dukungan resmi jika mengalami kendala. Jika aset tidak dapat ditarik atau saldo tidak terlihat, pengguna disarankan menghubungi layanan pelanggan INDODAX melalui saluran resmi. Hindari memberikan kata sandi, private key, atau seed phrase kepada pihak yang mengaku menawarkan bantuan.
Mengapa INDODAX Melakukan Delisting Aset Kripto?
Penghapusan aset dari bursa atau delisting dapat terjadi karena berbagai alasan. Dalam penjelasan mengenai kebijakan delisting, INDODAX menyebut beberapa faktor yang secara umum dapat menjadi pertimbangan perusahaan.
Faktor tersebut mencakup rendahnya likuiditas perdagangan, persoalan keamanan jaringan, permintaan pengembang proyek, hingga kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Likuiditas berkaitan dengan kemudahan aset diperjualbelikan tanpa menimbulkan perubahan harga yang terlalu besar. Jika aktivitas perdagangan terbatas, pengguna dapat menghadapi kesulitan ketika ingin membeli atau menjual token dalam jumlah tertentu.
Keamanan jaringan juga merupakan aspek penting dalam penilaian aset digital. Kerentanan teknis, gangguan operasional, atau masalah lain yang memengaruhi keamanan dapat menjadi perhatian bagi penyedia layanan perdagangan.
Selain itu, permintaan pengembang dapat berhubungan dengan perubahan dukungan terhadap token atau jaringan tertentu. Perubahan regulasi maupun persyaratan operasional bursa juga dapat memengaruhi kelayakan suatu aset untuk tetap tersedia di platform.
Meski demikian, faktor-faktor tersebut merupakan penjelasan umum mengenai kebijakan delisting INDODAX. Perusahaan belum memberikan keterangan terperinci yang menghubungkan setiap alasan dengan masing-masing dari 27 aset yang diumumkan pada 8 Oktober 2026.
Dengan demikian, tidak tepat jika seluruh token yang masuk daftar langsung dianggap memiliki masalah keamanan, gagal secara fundamental, atau kehilangan dukungan pengembang. Penilaian terhadap setiap proyek perlu didasarkan pada informasi spesifik dan sumber resmi yang relevan.
Tiga Gelombang Delisting INDODAX Sejak September 2026
Pengumuman penghapusan 27 aset pada Oktober bukanlah langkah pertama INDODAX dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, bursa tersebut telah mengumumkan dua gelombang delisting lain pada September 2026.
Jika digabungkan, ketiga pengumuman tersebut mencakup 60 aset kripto. Meski demikian, angka itu merujuk pada jumlah aset yang masuk dalam tiga gelombang pengumuman, bukan berarti seluruh aset tersebut masih berstatus delisting saat ini.
Gelombang pertama: 22 aset pada awal September
Pada 3 September 2026, INDODAX mengumumkan penghapusan 22 aset kripto. Sejumlah token yang masuk dalam daftar tersebut antara lain DEFI, LOOKS, DENT, REN, CEL, dan SFI.
Penghentian perdagangan untuk kelompok aset tersebut dijadwalkan berlangsung pada 10 September 2026.
Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa keputusan terhadap sebuah aset tidak selalu menjadi akhir dari kemungkinan perdagangan di platform. Salah satu token dalam gelombang pertama, Saffron.Finance (SFI), kemudian mendapatkan kesempatan untuk kembali diperdagangkan.
Gelombang kedua: 11 aset pada pertengahan September
Pengumuman berikutnya disampaikan pada 18 September 2026. Kali ini, INDODAX memasukkan 11 aset ke dalam daftar delisting, termasuk STORJ, COTI, MBOX, PRCL, CLV, SYN, dan SIREN.
Perdagangan aset-aset tersebut dijadwalkan dihentikan pada 24 September 2026.
Bertambahnya daftar aset yang dihapus dalam dua gelombang tersebut menunjukkan pentingnya pengguna memantau pengumuman resmi bursa. Status pencatatan sebuah token dapat berubah seiring evaluasi platform dan perkembangan proyek.
Gelombang ketiga: 27 aset pada Oktober
Pada 8 Oktober 2026, INDODAX mengumumkan gelombang ketiga dengan jumlah 27 aset kripto. Daftar ini mencakup BAL, LRC, dan ZETA yang menjadi perhatian karena masing-masing memiliki perkembangan proyek yang relevan.
Jika dijumlahkan, pengumuman pada 3 September, 18 September, dan 8 Oktober mencakup 22, 11, dan 27 aset, atau total 60 aset dalam sekitar lima pekan.
Namun, pengguna tetap perlu membedakan pengumuman delisting dari status perdagangan terkini. Kasus SFI menunjukkan bahwa perkembangan selanjutnya dapat menghasilkan perubahan status pencatatan.
Baca Juga: Harga HBAR Melonjak Tajam, Mance Harmon Kembali Pimpin Hashgraph
Saffron.Finance (SFI) Kembali Diperdagangkan di INDODAX
Di tengah serangkaian pengumuman delisting, Saffron.Finance (SFI) menjadi salah satu contoh aset yang memperoleh kesempatan untuk kembali diperdagangkan.
Berdasarkan pengumuman relisting pada 6 Oktober 2026, INDODAX menetapkan pembukaan kembali deposit SFI pada 7 Oktober, kemudian membuka perdagangan pasangan SFI/IDR pada 8 Oktober 2026.
Relisting adalah proses pencatatan kembali aset yang sebelumnya dihapus atau tidak tersedia untuk diperdagangkan pada suatu platform. Proses ini berbeda dari delisting karena memungkinkan pengguna kembali mengakses layanan perdagangan aset tersebut sesuai ketentuan bursa.
Meski demikian, relisting SFI tidak dapat dijadikan jaminan bahwa token lain yang masuk daftar delisting akan mengalami hal serupa. Setiap aset mempunyai kondisi proyek, persyaratan teknis, serta evaluasi pencatatan yang berbeda.
Bagi investor, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa status perdagangan token perlu dipantau secara berkala melalui pengumuman resmi, bukan hanya berdasarkan informasi lama atau asumsi pasar.
Perkembangan Balancer (BAL), Loopring (LRC), dan ZetaChain (ZETA)
Tiga token dalam daftar delisting terbaru yang mendapat perhatian adalah Balancer (BAL), Loopring (LRC), dan ZetaChain (ZETA). Ketiganya memiliki perkembangan berbeda yang relevan bagi pemegang aset, terutama terkait operasional protokol, dukungan perdagangan, dan rencana migrasi token.
Penting untuk dicatat bahwa perkembangan berikut merupakan konteks mengenai proyek terkait. Belum ada konfirmasi bahwa salah satu perkembangan tersebut menjadi penyebab langsung keputusan INDODAX untuk menghapus BAL, LRC, dan ZETA dari perdagangan.
1. Balancer (BAL) dan rencana penghentian operasional protokol
Balancer merupakan protokol keuangan terdesentralisasi yang berkaitan dengan kumpulan likuiditas dan aktivitas perdagangan aset digital. Perubahan operasional pada protokol dapat berpengaruh terhadap pengguna yang memanfaatkan layanan maupun memiliki token terkait.
Berdasarkan pembaruan forum tata kelola Balancer pada 29 September 2026, komunitas menyetujui proposal BIP-928 mengenai penghentian operasional protokol secara bertahap dan distribusi aset cadangan.
Proposal tersebut mencakup beberapa tahapan, termasuk transisi menuju fase khusus penarikan untuk kumpulan likuiditas tertentu yang dijadwalkan mulai 30 Oktober 2026. Distribusi cadangan direncanakan berlangsung pada akhir Mei 2027.
Rencana ini menjadi perkembangan penting bagi pemegang BAL karena perubahan operasional protokol dapat memengaruhi cara pengguna berinteraksi dengan layanan terkait.
Namun, keputusan tata kelola protokol dan keputusan pencatatan pada bursa merupakan dua hal yang berbeda. Informasi yang tersedia tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa proposal BIP-928 merupakan alasan langsung INDODAX melakukan delisting BAL.
Pemegang BAL sebaiknya mempelajari pembaruan resmi Balancer dan ketentuan penarikan INDODAX sebelum menentukan langkah terkait kepemilikan token.
2. Loopring (LRC) dan penghentian dukungan perdagangan di Luno
Loopring (LRC) juga menghadapi perubahan terkait dukungan perdagangan. Bursa kripto Luno sebelumnya mengumumkan penghentian perdagangan LRC pada 8 Oktober 2026 bagi pengguna di Indonesia, Malaysia, Nigeria, dan Afrika Selatan.
Dalam pemberitahuannya, Luno mengaitkan keputusan tersebut dengan penghentian permanen infrastruktur jaringan dasar Loopring. Menurut penilaian Luno, kondisi tersebut membuat LRC tidak lagi memenuhi standar pencatatan aset di platformnya.
Informasi ini relevan bagi pemegang LRC karena dukungan bursa merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kemudahan pengguna untuk melakukan transaksi. Jika sejumlah platform menghentikan perdagangan, pilihan tempat untuk memperjualbelikan token dapat menjadi lebih terbatas.
Meskipun demikian, keputusan Luno tidak secara otomatis menjelaskan keputusan INDODAX. Setiap bursa memiliki proses evaluasi, kebijakan pencatatan, dan persyaratan operasional masing-masing.
Karena itu, pemegang LRC perlu memastikan bahwa informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan berasal dari pengumuman resmi masing-masing platform. Pengguna juga perlu memeriksa ketersediaan jaringan dan dukungan penarikan sebelum memindahkan token.
3. ZetaChain (ZETA) dan rencana migrasi ke jaringan Solana
ZetaChain menjadi perhatian berikutnya karena adanya rencana migrasi token ZETA menuju jaringan Solana.
Berdasarkan pengumuman resmi ZetaChain pada 18 September 2026, pemegang ZETA menyetujui proposal migrasi tersebut dengan dukungan 99,4 persen suara pada 20 September 2026.
Rencana migrasi mencakup konversi token dengan rasio 1:1 tanpa mengubah total pasokan. Artinya, mekanisme yang diusulkan mempertahankan jumlah token melalui rasio konversi yang sama, bukan menambah atau mengurangi pasokan total sebagai bagian dari rasio tersebut.
Walaupun demikian, pelaksanaan migrasi masih memerlukan proposal lanjutan dan koordinasi dengan bursa. Mekanisme teknis, waktu pengambilan snapshot, serta jadwal pelaksanaan juga perlu ditetapkan lebih lanjut.
Hal ini menjadi penting bagi pemegang ZETA di INDODAX. Bursa telah menyatakan tidak akan memfasilitasi migrasi token atau perubahan identitas proyek yang dilakukan pengembang setelah jadwal delisting berlaku.
Pengguna yang memiliki ZETA karena itu perlu mengikuti pengumuman resmi ZetaChain dan memeriksa panduan dari platform tempat token disimpan. Jangan mengirim token menggunakan jaringan baru atau mengikuti instruksi migrasi yang belum terverifikasi.
Selain risiko kesalahan jaringan, pengguna juga perlu berhati-hati terhadap pihak yang menawarkan jasa migrasi dengan meminta private key, seed phrase, atau akses penuh ke dompet. Informasi rahasia tersebut tidak boleh diberikan kepada pihak lain.
Apakah Delisting Berarti Harga Token Akan Turun?
Delisting dapat memengaruhi akses perdagangan dan persepsi pasar terhadap sebuah aset. Namun, penghapusan token dari satu bursa tidak secara otomatis memastikan bahwa harganya akan turun atau bahwa token tersebut tidak lagi mempunyai nilai.
Salah satu dampak yang mungkin terjadi adalah berkurangnya pilihan perdagangan bagi pengguna platform yang melakukan delisting. Apabila token juga memiliki likuiditas terbatas di pasar lain, pengguna dapat menghadapi kesulitan ketika ingin menjual aset.
Di sisi lain, harga aset kripto dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi pasar secara keseluruhan, aktivitas proyek, likuiditas, sentimen investor, dan perkembangan teknologi.
Karena itu, pengguna sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan kabar delisting. Pertimbangkan informasi resmi, kemampuan memindahkan aset, kondisi jaringan, serta risiko yang dapat ditanggung.
Perlu dibedakan pula antara harga token, akses perdagangan, dan kemampuan penarikan. Ketiganya tidak selalu berubah secara bersamaan. Token yang tidak lagi dapat diperdagangkan di satu platform mungkin masih mempunyai pasar lain, tetapi hal tersebut perlu diverifikasi dan tidak dapat dijamin untuk setiap aset.
Informasi ini bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual token tertentu. Keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan tujuan, pemahaman risiko, dan kondisi masing-masing pengguna.
Cara Memeriksa Informasi Delisting Kripto dengan Aman
Bagi investor pemula maupun pengguna berpengalaman, pengumuman delisting menjadi alasan untuk meningkatkan ketelitian dalam memeriksa informasi aset digital.
Pertama, baca pengumuman resmi bursa untuk memastikan tanggal penghentian perdagangan, batas penarikan, dan ketentuan yang berlaku. Hindari hanya mengandalkan unggahan media sosial yang tidak menyertakan sumber.
Kedua, periksa kanal resmi pengembang proyek. Informasi tersebut diperlukan terutama jika token sedang menjalani migrasi, mengalami perubahan jaringan, atau menghadapi penghentian operasional layanan.
Ketiga, pastikan token yang akan dipindahkan benar-benar sesuai dengan jaringan tujuan. Nama token yang serupa tidak selalu menunjukkan bahwa aset tersebut berada pada jaringan atau kontrak yang sama.
Keempat, waspadai penipuan yang memanfaatkan kabar delisting. Pelaku dapat menggunakan tenggat waktu untuk mendesak pengguna mengirimkan aset ke alamat tertentu atau memberikan informasi rahasia. Jangan mengikuti instruksi yang tidak dapat diverifikasi.
Kelima, simpan dokumentasi transaksi dan catatan saldo. Informasi ini dapat membantu proses penelusuran apabila terjadi keterlambatan atau masalah penarikan.
Terakhir, jika mengalami kendala, hubungi layanan pelanggan melalui kanal resmi platform. Jangan menganggap bahwa setiap akun media sosial yang mengaku sebagai dukungan teknis benar-benar mewakili perusahaan.
Kesimpulan
INDODAX akan menghentikan perdagangan dan deposit 27 aset kripto pada 15 Oktober 2026 pukul 14.00 WIB, dengan batas akhir penarikan pada 15 November 2026 pukul 14.00 WIB. Daftar tersebut mencakup Balancer (BAL), Loopring (LRC), ZetaChain (ZETA), serta 24 aset lainnya.
Keputusan ini merupakan gelombang ketiga pengumuman delisting INDODAX sejak awal September. Secara keseluruhan, ketiga gelombang mencakup 60 aset, meskipun angka tersebut tidak berarti seluruh token masih berstatus delisting karena Saffron.Finance (SFI), misalnya, telah memperoleh jadwal relisting.
Perkembangan Balancer, Loopring, dan ZetaChain menjadi perhatian karena berkaitan dengan perubahan operasional protokol, dukungan perdagangan, serta rencana migrasi token. Namun, belum ada konfirmasi bahwa perkembangan tersebut menjadi alasan langsung INDODAX menghapus ketiga aset dari platform.
Bagi pengguna yang masih menyimpan token terdampak, langkah terpenting adalah memeriksa saldo, memastikan jaringan yang didukung, dan memahami prosedur withdrawal sebelum tenggat waktu berakhir. Pengguna juga perlu mengikuti pengumuman resmi dari bursa dan pengembang agar tidak salah mengambil langkah saat menghadapi perubahan status aset.
Pantau terus perkembangan berita kripto, Bitcoin, blockchain, dan kebijakan perdagangan aset digital melalui Blockchain Media Indonesia untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai pasar kripto dan panduan bagi investor.