progamersarena.org/ – Harga Bitcoin (BTC) kembali berada di bawah level US$85.000 setelah mengalami tekanan jual dalam perdagangan terbaru. Meski demikian, peluang pemulihan masih terbuka apabila Bitcoin mampu menembus sejumlah resistance penting yang saat ini menjadi penghalang menuju level harga yang lebih tinggi.

Pergerakan Bitcoin memasuki fase yang cukup menentukan. Di satu sisi, tekanan jual masih terlihat setelah BTC gagal mempertahankan penguatan menuju US$87.000. Namun di sisi lain, sejumlah indikator teknikal dan data pasar derivatif menunjukkan adanya peluang bagi Bitcoin untuk kembali menguat apabila momentum bullish berhasil terbentuk.

Salah satu proyeksi teknikal bahkan menempatkan target harga Bitcoin di US$160.118 apabila struktur kenaikan yang sedang diamati mampu berkembang sesuai skenario.

Lantas, level harga Bitcoin apa saja yang perlu diperhatikan investor dan trader? Apakah sinyal short squeeze dapat menjadi katalis bagi BTC untuk kembali naik? Berikut ulasannya.

Baca Juga: Token DOLO Masuk Radar Hidden Gem? Aktivitas On-Chain dan Tokenomik Mulai Menarik Perhatian

Harga Bitcoin Masih Tertekan di Bawah US$85.000

Berdasarkan data historis perdagangan, harga Bitcoin ditutup di sekitar US$83.544 pada Rabu (7/10/2026). Angka tersebut menunjukkan penurunan sekitar 2,35 persen dibandingkan sesi perdagangan sebelumnya.

Tekanan tersebut terjadi setelah Bitcoin sebelumnya sempat bergerak mendekati US$87.000 pada awal Oktober 2026. Sayangnya, BTC belum mampu mempertahankan momentum tersebut sehingga kembali terkoreksi dan bergerak di bawah US$85.000.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa area US$85.000 masih menjadi salah satu level penting dalam pergerakan Bitcoin jangka pendek. Ketika harga belum mampu bertahan di atas area tersebut, pelaku pasar masih perlu mewaspadai kemungkinan terjadinya konsolidasi ataupun tekanan jual lanjutan.

Di sisi lain, penurunan harga tidak serta-merta menghapus peluang bullish Bitcoin. Pasar kripto dikenal memiliki volatilitas tinggi sehingga perubahan momentum dapat berlangsung dengan cepat, khususnya ketika terjadi penembusan resistance yang disertai peningkatan volume dan aktivitas perdagangan.

Karena itu, perhatian pasar saat ini tidak hanya tertuju pada posisi harga Bitcoin saat ini, tetapi juga pada kemampuan BTC untuk merebut kembali sejumlah level teknikal penting.

Analisis Teknikal Membuka Peluang Bitcoin Menuju US$160.118

Salah satu proyeksi menarik datang dari analis kripto Don. Melalui analisis teknikal pada grafik BTC/USD time frame tiga harian, Don melihat adanya pola yang berpotensi membuka ruang bagi Bitcoin untuk melanjutkan tren kenaikan.

Ia mengidentifikasi struktur yang disebut sebagai bullish megaphone pattern atau pola megafon bullish.

Pola tersebut ditandai oleh pergerakan harga yang membentuk rangkaian naik dan turun dalam rentang yang semakin melebar. Dalam konteks analisis Don, struktur tersebut dinilai masih memberikan peluang bagi Bitcoin untuk membentuk gelombang kenaikan berikutnya.

“BTC dalam pola megaphone bullish,” tulis Don dalam analisisnya.

Berdasarkan pemetaan tersebut, empat gelombang pergerakan harga telah terbentuk. Selanjutnya, gelombang kelima atau wave kelima menjadi bagian yang menarik perhatian karena berpotensi membawa Bitcoin menuju level yang jauh lebih tinggi.

Dalam skenario tersebut, target akhir yang diproyeksikan berada di sekitar US$160.118.

Namun, target tersebut bukan berarti Bitcoin dapat langsung bergerak menuju US$160.000 tanpa menghadapi resistance. Sebaliknya, terdapat beberapa level penting yang harus dilewati terlebih dahulu agar skenario bullish tersebut memiliki peluang lebih besar untuk terealisasi.

US$88.278 Menjadi Resistance Bitcoin yang Perlu Ditembus

Level pertama yang patut diperhatikan adalah US$88.278.

Menurut pemetaan Don, area tersebut memiliki arti penting karena berada di sekitar moving average 200 (MA200) pada grafik tiga harian Bitcoin.

MA200 merupakan salah satu indikator yang banyak digunakan trader dan analis untuk melihat kecenderungan tren dalam jangka lebih panjang. Posisi harga terhadap moving average tersebut dapat membantu memberikan gambaran mengenai kekuatan momentum pasar.

Apabila harga Bitcoin berhasil menembus dan bertahan di atas US$88.278, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal positif bagi kelanjutan pemulihan BTC.

Penembusan resistance tentu akan lebih meyakinkan apabila didukung oleh peningkatan volume perdagangan dan permintaan yang kuat. Dalam kondisi seperti itu, pasar dapat melihat bahwa kenaikan bukan sekadar rebound sementara, melainkan berpotensi menjadi bagian dari tren yang lebih besar.

Sebaliknya, jika Bitcoin kembali gagal melewati US$88.278, area tersebut berpotensi tetap menjadi resistance yang membatasi ruang kenaikan BTC.

Dengan demikian, trader perlu memperhatikan reaksi harga Bitcoin ketika mendekati level tersebut. Kemampuan BTC menembus resistance akan menjadi salah satu indikator penting untuk menilai apakah skenario menuju target yang lebih tinggi mulai mendapatkan konfirmasi.

Setelah US$88.278, Bitcoin Mengincar US$120.658

Jika Bitcoin berhasil melewati resistance US$88.278, perhatian berikutnya akan beralih ke US$120.658.

Level tersebut menjadi bagian penting dari proyeksi teknikal karena berada di antara resistance awal dan target wave kelima yang diperkirakan mencapai US$160.118.

Artinya, perjalanan Bitcoin menuju US$160.000 masih memiliki beberapa tahapan. Setiap resistance perlu dilewati dengan momentum yang cukup kuat agar struktur bullish tetap terjaga.

US$120.658 juga dapat menjadi area yang berpotensi memicu aksi ambil untung. Setelah mengalami kenaikan signifikan, sebagian trader mungkin memilih merealisasikan keuntungan ketika harga mendekati resistance historis.

Oleh sebab itu, keberhasilan Bitcoin menembus US$120.658 akan menjadi perkembangan penting dalam skenario bullish jangka menengah.

Jika area tersebut berhasil ditembus dan kemudian berubah menjadi support, peluang Bitcoin untuk melanjutkan perjalanan menuju target US$160.118 akan menjadi semakin terbuka.

Namun, apabila BTC justru mengalami penolakan kuat di area tersebut, pasar berpotensi kembali memasuki fase konsolidasi atau koreksi.

Target Bitcoin US$160.118 Masih Bergantung pada Konfirmasi Tren

Proyeksi harga Bitcoin US$160.118 tentu menarik perhatian karena menunjukkan potensi kenaikan yang cukup besar dibandingkan harga BTC saat ini.

Meski demikian, target teknikal tidak dapat dipandang sebagai kepastian. Target tersebut merupakan bagian dari sebuah skenario yang bergantung pada sejumlah kondisi pasar.

Bitcoin harus mampu mempertahankan momentum bullish, melewati resistance penting, serta mendapatkan dukungan permintaan yang memadai.

Dalam analisis teknikal, target harga sebaiknya dipahami sebagai area yang berpotensi dicapai berdasarkan struktur tertentu, bukan sebagai jaminan bahwa harga akan mencapai level tersebut.

Karena itu, perkembangan harga di sekitar US$88.278 dan US$120.658 menjadi sangat penting. Kedua level tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk menilai apakah struktur kenaikan Bitcoin masih berjalan sesuai dengan proyeksi.

Jika momentum bullish melemah sebelum resistance tersebut ditembus, target US$160.118 tentu akan semakin sulit dicapai dalam waktu dekat.

Sinyal Short Squeeze Bitcoin Mulai Kembali Muncul

Selain analisis grafik, perkembangan di pasar derivatif juga memberikan sinyal menarik.

Analis Moreno melalui laporan terbarunya di CryptoQuant mengamati munculnya kembali indikasi short exhaustion pada pasar derivatif Bitcoin di Binance.

Salah satu indikator yang digunakan adalah Binance Squeeze Risk Oscillator dengan simple moving average 14 (SMA14). Indikator tersebut kembali bergerak melewati level +0,80 setelah sebelumnya mengalami penurunan dan mendekati titik netral atau nol.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi kelelahan pada posisi short atau posisi yang mengantisipasi penurunan harga Bitcoin.

Ketika terlalu banyak trader mengambil posisi short, kenaikan harga yang cukup kuat dapat membuat posisi tersebut mengalami tekanan. Trader yang membuka posisi short harus membeli kembali Bitcoin untuk menutup posisi mereka.

Dalam kondisi tertentu, proses tersebut dapat menciptakan tambahan tekanan beli.

Jika terjadi secara bersamaan dengan likuidasi posisi short yang menggunakan leverage, efeknya dapat menjadi lebih besar. Kondisi seperti inilah yang dikenal sebagai short squeeze.

Short squeeze dapat membuat harga aset bergerak naik dengan cepat karena pelaku pasar yang sebelumnya bertaruh terhadap penurunan justru dipaksa membeli kembali aset untuk menutup posisi mereka.

Apa Itu Short Squeeze dan Mengapa Penting bagi Bitcoin?

Secara sederhana, short squeeze terjadi ketika kenaikan harga aset memaksa trader yang memiliki posisi short untuk melakukan penutupan posisi.

Misalnya, seorang trader memperkirakan harga Bitcoin akan turun sehingga membuka posisi short. Namun, apabila harga justru naik dengan cepat, posisi tersebut mulai mengalami kerugian.

Untuk membatasi kerugian atau karena posisi terkena likuidasi, trader harus membeli kembali Bitcoin.

Ketika banyak posisi short mengalami kondisi serupa secara bersamaan, aktivitas pembelian tersebut dapat menambah permintaan di pasar. Harga kemudian berpotensi naik lebih cepat.

Mekanisme ini membuat short squeeze menjadi salah satu katalis yang sering diperhatikan di pasar kripto.

Meski demikian, keberadaan sinyal short exhaustion belum cukup untuk memastikan short squeeze akan terjadi.

Moreno juga menekankan bahwa indikator tersebut menunjukkan potensi, bukan bukti bahwa penutupan paksa posisi short sudah benar-benar berlangsung.

Dengan kata lain, trader tetap perlu menunggu konfirmasi dari pergerakan harga dan data derivatif lainnya.

Bitcoin Masih Konsolidasi di Area US$84.000-US$87.000

Dalam analisisnya, Moreno turut menyoroti pergerakan Bitcoin yang masih berada dalam kisaran US$84.000 hingga US$87.000.

Rentang tersebut menjadi penting karena penembusan salah satu sisi dapat memberikan petunjuk mengenai arah pergerakan berikutnya.

Jika Bitcoin berhasil menembus batas atas kisaran tersebut, kemudian diikuti peningkatan likuidasi posisi short dan penurunan open interest, kondisi tersebut akan lebih sesuai dengan karakteristik short squeeze.

Sebaliknya, apabila Bitcoin terus bergerak sideways di dalam rentang US$84.000-US$87.000, sinyal short exhaustion belum dapat dianggap sebagai konfirmasi bullish.

Situasinya bahkan dapat berubah menjadi lebih bearish apabila BTC kehilangan support penting dan kembali mengalami tekanan jual.

Karena itu, pasar perlu melihat kombinasi beberapa indikator sekaligus. Harga Bitcoin, open interest, likuidasi posisi, volume perdagangan, serta struktur teknikal dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap dibandingkan hanya mengandalkan satu indikator.

Sinyal Bullish Belum Menjamin Bitcoin Akan Terus Naik

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa indikator short squeeze tidak selalu menghasilkan kenaikan harga yang berkelanjutan.

Moreno mencatat bahwa pembacaan indikator yang sangat positif pada periode sebelumnya tidak selalu diikuti oleh tren bullish yang panjang.

Ini merupakan pengingat penting bagi trader agar tidak langsung mengambil keputusan hanya berdasarkan satu sinyal.

Dalam pasar kripto, indikator dapat memberikan sinyal awal, tetapi konfirmasi tetap diperlukan.

Misalnya, sinyal bullish akan menjadi lebih menarik apabila Bitcoin mampu menembus resistance dengan volume perdagangan yang meningkat. Sebaliknya, apabila harga gagal menembus resistance dan kembali turun, sinyal tersebut dapat kehilangan kekuatannya.

Dengan kondisi tersebut, US$88.278 menjadi level penting yang perlu diperhatikan dalam jangka pendek, sedangkan US$120.658 menjadi resistance berikutnya dalam skenario bullish yang lebih panjang.

Baca Juga: XRP Susul Bitcoin dan Ethereum di Polymarket US, Filing Baru Masuk CFTC

Faktor yang Perlu Dipantau Investor Bitcoin

Ada beberapa faktor utama yang sebaiknya diperhatikan untuk mengetahui apakah Bitcoin memiliki peluang melanjutkan pemulihan.

1. Penembusan US$88.278

Level ini menjadi resistance penting yang berkaitan dengan MA200 pada grafik tiga harian. Breakout yang kuat dapat meningkatkan kepercayaan pasar terhadap skenario bullish.

2. Pergerakan di Atas US$87.000

Bitcoin sebelumnya sempat mendekati US$87.000 tetapi belum mampu mempertahankan momentum. Karena itu, kemampuan BTC kembali bergerak di atas area tersebut juga penting untuk mengukur kekuatan pembeli.

3. Open Interest Pasar Derivatif

Perubahan open interest dapat memberikan informasi mengenai aktivitas posisi leverage di pasar. Kombinasi antara pergerakan harga dan open interest perlu diamati untuk mengetahui apakah terjadi perubahan posisi yang signifikan.

4. Likuidasi Posisi Short

Peningkatan likuidasi posisi short ketika harga Bitcoin menembus resistance dapat menjadi salah satu tanda bahwa tekanan beli sedang meningkat.

5. Kekuatan Permintaan

Breakout tanpa dukungan permintaan yang kuat berisiko menjadi false breakout. Oleh sebab itu, volume perdagangan dan kekuatan pembeli tetap menjadi faktor penting.

Apakah Bitcoin Bisa Mencapai US$160.000?

Berdasarkan analisis teknikal Don, Bitcoin memiliki skenario untuk mencapai US$160.118 melalui pembentukan wave kelima dalam pola megaphone bullish.

Namun, target tersebut masih membutuhkan beberapa konfirmasi.

Bitcoin pertama-tama perlu menunjukkan kemampuan untuk menembus US$88.278. Setelah itu, level US$120.658 menjadi tantangan berikutnya sebelum target US$160.118 dapat menjadi semakin relevan.

Dari sisi pasar derivatif, munculnya kembali sinyal short exhaustion juga memberikan potensi katalis tambahan. Apabila terjadi breakout dari kisaran US$84.000-US$87.000 yang diikuti peningkatan likuidasi short serta penurunan open interest, peluang terjadinya short squeeze dapat menjadi lebih kuat.

Meski begitu, investor tetap perlu mempertimbangkan kemungkinan sebaliknya. Jika Bitcoin gagal menembus resistance, sinyal bullish dapat kembali melemah dan harga berpotensi melanjutkan konsolidasi atau mengalami koreksi.

Dengan demikian, US$160.000 bukanlah target yang bisa dianggap pasti, melainkan sebuah proyeksi yang hanya dapat berkembang apabila struktur teknikal dan kondisi pasar mendukung.

Kesimpulan

Harga Bitcoin saat ini berada pada fase penting setelah kembali bergerak di bawah US$85.000. BTC sebelumnya sempat mendekati US$87.000, tetapi gagal mempertahankan momentum sehingga tekanan jual kembali terlihat.

Meski demikian, peluang bullish belum sepenuhnya hilang. Analisis Don menunjukkan adanya pola megaphone bullish pada grafik tiga harian yang berpotensi membawa Bitcoin menuju US$160.118 melalui wave kelima.

Untuk mencapai target tersebut, Bitcoin perlu melewati sejumlah resistance. US$88.278 menjadi level pertama yang harus diperhatikan, sementara US$120.658 menjadi target penting berikutnya dalam struktur kenaikan.

Dari pasar derivatif, muncul pula sinyal short exhaustion yang berpotensi menjadi katalis bagi short squeeze. Namun, sinyal tersebut belum dapat menjadi bukti bahwa short squeeze sudah berlangsung.

Karena itu, pelaku pasar sebaiknya menunggu konfirmasi dari pergerakan harga, volume, open interest, serta data likuidasi sebelum menyimpulkan bahwa Bitcoin telah memasuki fase bullish baru.

Jika Bitcoin mampu menembus resistance penting dan mempertahankan momentum, peluang menuju level yang lebih tinggi akan semakin terbuka. Sebaliknya, kegagalan breakout dapat membuat BTC kembali bergerak dalam fase konsolidasi.

Bagi investor dan trader, perkembangan harga di sekitar US$88.278, US$120.658, dan US$160.118 menjadi area yang layak dipantau untuk melihat bagaimana kelanjutan tren Bitcoin berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *